astridyusara

Detektif Rani

In Cerpen on November 25, 2010 at 12:31 pm

Pagi itu, kelas 6B masih sepi. Rani yang baru datang kaget melihat teman sebangkunya, Tita tampak murung.

“Ada apa, Ta? Kok diem aja?”

” Gak ada apa-apa kok, Cuma masih ngantuk aja”

“Udah, jangan bohong! Aku kenal kamu dari kecil, Ta!”

“Bener, kok. Cuma ngantuk”

“Ternyata kamu gak nganggep aku sahabat kamu lagi yaTa. Sampai-sampai kamu gak  mau berbagi kesedihan sama aku”, Rani pun pergi meninggalkan Tita.

“Tungg…tunggu, Ran!”, Rani hanya membalikkan badannya . Tita pun langsung menarik  lengan Rani untuk duduk.

“Kamu, nih. Jangan gitu dong. Oke, aku cerita”

“Dari tadi dong, kalau gitu kan aku gak perlu ngomong kaya tadi”, ujar Rani dalam hati.

“Tapi kamugak usah bilang siapa-siapa ya!”

“Iya!”, jawab Rani

“U..uangku hilang!” Rani langsung terkejut, “Kok bisa, Ta?”

“Seingetku kemarin masih ada di dompet. Tapi waktu pulang aku udah nyari kemana-mana gak ketemu.” tutur Tita dengan sedih.

“Sabar ya, Ta! Orangtua kamu udah tau?” tanya Rani simpati.

“Belum, tapi uang itu sangat berharga bagi aku”

“Ohm, tunggu!!! Kamu terakhir liat uang itu kapan?”, tanya Rani yang jiwa sok detektifnya  mulai kambuh.

“Terakhir sih pelajaran sebelum istirahat. Terus dompetnya kutaruh di tas”, jawab Tita

“Apakah anda sempat meninggalkan tas setelah itu?”, tanya Rani lagi dengan raut wajah serius. Tita hanya tertawa terbahahak-bahak melihat Rani.

“Serius nih!”, Rani mencoba meyakinkan.

“Enggak sih, paling cuma waktu istirahat”, Tita agak menahan tawa.

Rani berpikir sejenak, uang itu bisa saja diambil oleh seseorang.

“Kamu ke kantin sama siapa? Bawa dompet kan? Dan apa kamu yakin uang itu gak dipakai?”, tanya Rani bertubi-tubi.

“Bawa, aku inget banget uangnya tuh gak aku pake. Mana bisa dipake coba? Terus lagian aku kan ke kantinnya sama kamu, Ran!”, kata Tita dengan gelak tawa.

“Oh iya, ya!! Maaf aku lupa!”, kata Rani malu.

“Oke, kita lanjutkan! Kamu sempat ninggalin dompet di tas?”,  lanjut Rani.

“Hemm, sempet sih!”, Tita mencoba mengingat.

“Hahh? Kapan-kapan? Trus kamu keluar gak? Waktu kamu keluar di kelas ada siapa?”, tanya Rani bertubi-tubi.

“Haha.. Sabar, sabar. Aku juga gak inget. Kan di kelas banyak orang”, Rani pun hanya bisa menarik nafas kecewa.

Tita bisa memaklumi Rani yang memang suka membaca buku serial detektif. Tita  pun meninggalkan temannya yang satu ini termenung di bangku karena dipanggil oleh teman kelas lain.

 

Sesaat setelah Tita pergi, Rani langsung menginterogasi teman-teman sekelasnya. Kelas yang sudah sebagian terisi penuh oleh para murid ini menjadi sedikit gaduh dan kebingungan karena pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh Rani tanpa alasan yang jelas.

“Loh, Ran! Kamu ngapain? Kamu cerita ya kalau uangku itu hilang?”, tanya Tita yang baru kembali ke kelas dan kebingungan melihat Rani sedang sibuk bertanya-tanya.

“Tenang! Detektif tidak akan membocorkan rahasia kliennya kok”, kata Rani sok berwibawa.

“Trus?”, kata Tita lagi

“Maaf, Ta!! Ternyata susah banget ya cari tahu siapa yang ngambil uang kamu. Apa jangan-jangan anak kelas lain lagi”, kata Rani dengan agak malu.

“Duh, Rani ini! Jadi kamu nuduh ada yang  gambil?”

“Ya iyalah! Kalo gak, gimana ceritanya bisa hilang”, jawab Rani

“Tapi emangnya siapa yang mau ngambil duit itu? Selain uang itu kan ada uang lain di dompetku”, jawaban Tita membuat Rani sedikit kaget.

“Jangan bilang duit yang hilang nominalnya cuma seribu rupiah ya?”, tanya Rani mulai khawatir akan kesalahan fatal yang dibuatnya.

“Bukan, tapi lima puluh ribu!”, jawab Tita tegas.

“Nah.. itu kan cukup banyak, Ta!”, kata Rani mulai lega.

“Iya, tapi itu uang palsu?”

Rani tercekat, “Apa? ” ia mulai berpikir bahwa keluarga Tita mempunyai perusahaan uang palsu.

“Aku gak nyangka, kamu.. “, kata Rani tertahan.

“Dihh.. si Rani ini! Ya enggak lah!”, jawab Tita yang bisa menebak maksud Rani.

“Jadi,. Nenekku dulu kan sempet belajar teknologi. Nenek nyoba belajar edit  foto. Jadi, gambar uang lima puluh ribu itu muka pahlawannya diganti sama muka aku dan nenek. Jadinya lucu banget. Tapi aku malu jadi gak pernah kuperlihatkan ke kamu”, jelas Tita dengan raut wajah sedih karena uang palsu itu hilang dan tidak ada kopiannya lagi.

“Nanti aku bantu cari ya”, Rani berusaha membujuk Tita yang terlihat sedih, apalagi mengingat nenek Tita sudah meninggal. Namun Tita hanya menangguk pelan.

 

Bel berbunyi, anak-anak berlarian masuk ke dalam kelas. Rani tiba-tiba teringat sesuatu.

“Ta, coba lihat kolong mejamu deh!”,begitu Tita memasukkan tangannya ke kolong ia langsung terlonjak kaget sekaligus senang karena menemukan apa yang ia cari.

“Kok kamu bisa tahu?”

“Insting” jawab Rani yang malu jika mengatakan bahwa kemarin ia melihat sahabatnya itu mengeluarkan sesuatu dari dompet dan dengan terburu-buru memasukkannya ke kolong meja tanpa dimasukkan lagi ke dompet karena dipanggil teman kelas sebelah. Rani pun mendesah lega karena bisa melihat senyum menghiasi wajah Tita lagi.

 

 

Advertisements

Lolongan Ego

In Puisi on November 21, 2010 at 12:11 pm

Aku enggan tumbuh besar
Menjadi orang dewasa yang aneh
Harus enghadapi dunia yang kejam
Tak bis lagi sembunyi di bawah kolong meja
Enggak boleh memikirkan cerita fantasi
Malah masuk ke dunia lain yang mengerikan
Kesana kemari untuk bekerja
Sempat terjebak juga dalam urusan pecintaan yang kian merumit

Aaku mau disini terus
Menjadi anak kecil yang lucu
Dalam dunia yang nyaman
Diselimuti dengan penuh kasih sayang
Sambil memikirkan dongeng fantasi
Duniaku begitu bahagia dan penuh tawa yang riang
Kesana kemari pun hanya untuk bermaian
Sampai menangis saat terjebak didalam lemari yang sempit

astridyusara

Cinta Maya

In Puisi on November 21, 2010 at 1:13 am

Terlarut dalam bayang-bayang

Tersenyum hanya dengan membaca

Membaca kata-kata pada layar

Yang tak jelas dari mahluk seperti apa

Berbicara, tapi bukan dengan suara

Hanya lewat kata demi kata

Yang tertuliskan pada layar kaca

Yang ditujukan entah kepada siapa

Meluapkan berbagai macam perasaan

Tak jua peluh menjentikkan jari jemari diatas sebuah papan

Sesekali diiringi dengan senyuman

Dan tawa akan kekonyolan

Tak pernah bertatapan,

Tak pernah bersua.

Namun seolah sangat akrab,

Berada dalam ruang yang dekat

Jatuh cinta pada kata-kata manis

Yang entah fakta atau rayu

Telah menjadi sebuah prioritas

Dalam aturan dunia mesin

Menjadikannya sebuah hubungan

Hubungan istimewa, meski tak saling mengenal

Sebuah hubungan yang palsu

Hubungan di dalam dunia maya

Tak peduli, meski tak pernah bertemu

Walau hanya jatuh cinta pada kata yang dimainkan

Menuangkan cerita tanpa ragu,

Yakin hanya pada kata-kata

Menjadi dekat lewat mesin ajaib

Namun asing saat bertemu, bertatapan

Begitulah hukum yang dikuasai teknologi

Cinta Maya